Semarak Hari Anak Nasional di Mimika: Ribuan Anak Memupuk Cinta Budaya di Gedung Eme Neme Yauware
TIMIKA, papuamctv.com — Peringatan Hari
Anak Nasional (HAN) ke-42 di Kabupaten Mimika, Papua Tengah, menjadi panggung
penegasan bahwa pemenuhan dan perlindungan hak anak bukan semata-mata agenda
rutin Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD). Lebih dari itu, HAN merupakan momentum
krusial yang menuntut komitmen kolektif dari seluruh jenjang pendidikan—mulai
dari SD, SMP, hingga SMA/SMK—guna menciptakan lingkungan yang aman, inklusif,
dan ramah anak.
Semangat tersebut tecermin dalam
gelaran Peringatan HAN ke-42 yang berlangsung meriah di Timika. Kemeriahan
puncak peringatan ditandai dengan aksi jalan santai sekaligus Pawai Budaya
yang diikuti oleh sekitar 2.000 anak dari 78 Sekolah Taman Kanak-Kanak (TK)
se-Kabupaten Mimika. Berangkat dari halaman Gedung Eme Neme Yauware, peserta
berjalan memutar di area Bank Papua, melintasi Jalan Belibis, hingga kembali ke
titik awal.
Ribuan anak-anak tampil anggun
dan ceria mengenakan aneka pakaian adat nusantara. Ketua Ikatan Guru Taman
Kanak-Kanak Indonesia (IGTKI) Kabupaten Mimika, Antoneta Manuhutu, S.Pd.,
Gr., mengungkapkan bahwa tradisi mengenakan busana daerah ini sengaja
dirawat untuk menanamkan jiwa nasionalisme sejak dini.
"Kami ingin memperkenalkan
keberagaman budaya kepada anak-anak. Bukan hanya budaya Papua tempat mereka
tumbuh, melainkan juga seluruh budaya dari berbagai provinsi di Indonesia agar
mereka dapat mengenal dan menghargainya," ujar Antoneta.
Antoneta juga menyampaikan
apresiasi mendalam atas kolaborasi erat antara sekolah, orang tua, dan Bidang
PAUD Dinas Pendidikan yang membuat perhelatan tahun ini berjalan sukses.

Dok. Kemeriahan peringatan HAN ke-42 yang berlangsung meriah di Timika. Kamis (23/07/2026). Foto: Jean
Di balik kemeriahan warna-warni
busana adat, ada pesan mendalam yang disuarakan. Kepala Bidang PAUD dan
Pendidikan Non-Formal (PNF) Dinas Pendidikan Kabupaten Mimika, Alowisia
Emakeparo, S.Pd., menegaskan pentingnya menempatkan isu perlindungan anak
sebagai prioritas di semua jenjang pendidikan.
Alowisia menyoroti masih maraknya
realitas sosial di mana hak anak diabaikan atau dipandang sebelah mata, baik di
lingkungan keluarga maupun sekolah.
"Hari Anak Nasional harus
diperingati oleh seluruh anak Indonesia di semua jenjang pendidikan. Ini
menyangkut perlindungan anak, karena hingga kini kita masih sering melihat
anak-anak dipandang sebelah mata," tegas Alowisia.
Ia menggarisbawahi pentingnya
edukasi pengasuhan (parenting) terintegrasi—mulai dari masa kehamilan
hingga anak memasuki usia sekolah—untuk mencegah tindakan penelantaran.
Menurutnya, PAUD merupakan pilar awal pembentukan karakter yang tidak boleh
dilewati oleh anak-anak.
Melalui momentum HAN ke-42 ini,
Pemerintah Kabupaten Mimika bersama IGTKI mengajak para tenaga pendidik dan
orang tua untuk semakin memperkuat sinergi. Penguatan karakter, pemenuhan hak
dasar, dan perlindungan dari penelantaran menjadi fondasi utama dalam mencetak Generasi
Emas di Tanah Amungsa. (HK)

















