Sinergi Tiga Pilar Garda Terdepan dan Optimalisasi Pangan Lokal: Strategi Mimika Akselerasi Penurunan Stunting
TIMIKA, papuamctv.com — Pemerintah
Kabupaten Mimika, Provinsi Papua Tengah, kian memperkuat komitmen nyata dalam
mengakselerasi penurunan angka stunting. Langkah taktis ini diwujudkan melalui
penguatan kapasitas klinis para tenaga kesehatan di tingkat akar rumput. Dinas
Kesehatan Kabupaten Mimika menyelenggarakan pelatihan intensif tatalaksana
stunting yang secara sinergis melibatkan perwakilan dari 26 Puskesmas serta 3
Rumah Sakit yang tersebar di wilayah administrasi Kabupaten Mimika.
Ditemui pasca-kegiatan di
Ballroom Hotel Grand Tembaga pada Rabu (15/07/2026), Ketua Persatuan Ahli Gizi
Indonesia (PERSAGI) Kabupaten Mimika, Stani Miranti Haurissa,
menyampaikan apresiasi yang mendalam terhadap inisiatif fasilitasi dari Dinas
Kesehatan. Terlebih, narasumber yang dihadirkan merupakan jajaran klinisi
profesional yang berpengalaman khusus dalam menangani pasien stunting rujukan.
Stani menegaskan bahwa kunci
utama dari efektivitas penanganan stunting di lapangan terletak pada kekuatan
kolaborasi multiprofesi. Pelatihan ini mempertemukan tiga pilar utama pelayanan
kesehatan masyarakat, yakni dokter, bidan atau perawat, serta tenaga gizi
(nutrisionis).
"Harapan saya, dengan
bertemunya tiga profesi ini, kita bisa membangun kolaborasi kerja sama yang
jauh lebih solid di lapangan saat kembali ke faskes masing-masing," ungkap
Stani.
Menurutnya, ketiga profesi ini
merupakan benteng pertahanan pertama yang berhadapan langsung dengan pasien.
Tatkala seorang balita didiagnosis mengalami stunting, ketiganya harus bergerak
cepat dalam satu rantai penanganan yang berkesinambungan: dokter melakukan
diagnosis klinis, bidan/perawat mengawal pemantauan tumbuh kembang, dan tenaga
gizi merumuskan intervensi dietetik serta edukasi makanan bagi keluarga.
Mimika memiliki karakteristik
geografis yang sangat kontras, membentang dari wilayah pesisir pantai hingga
pegunungan tinggi yang kerap kali sulit diakses. Perbedaan lanskap ini otomatis
menghadirkan kompleksitas kasus dan tantangan penanganan yang berbeda bagi tiap
tenaga kesehatan.
Memberikan dorongan moril kepada
rekan sejawatnya, terutama para nutrisionis di daerah pelosok, Stani mengimbau
pentingnya menjaga niat yang tulus. "Tanggung jawab kita sangat besar.
Mulai dari mengawal gizi ibu hamil demi mencegah stunting sejak dalam
kandungan, hingga mengintervensi balita yang telah terdiagnosis stunting. Mari
aplikasikan ilmu yang didapat dari pelatihan ini, berikan edukasi terbaik, dan
bekerjalah dengan hati demi membantu pemerintah menurunkan prevalensi stunting
di tingkat daerah maupun nasional," pesannya optimis.
Dalam upaya preventif maupun
kuratif stunting, PERSAGI Mimika menekankan pentingnya pemanfaatan pangan
lokal. Stani menilai, pendekatan terbaik untuk masyarakat lokal adalah
memodifikasi bahan pangan yang telah akrab dengan kebiasaan konsumsi harian
mereka, lalu memperkayanya dengan protein hewani.
- Masyarakat Pesisir: Memanfaatkan limpahan
hasil laut seperti ikan dan udang segar sebagai sumber protein tinggi yang
dicampurkan ke dalam menu harian anak.
- Masyarakat Pegunungan: Menghadapi
keterbatasan akses pasokan protein laut segar, petugas kesehatan dituntut
kreatif mengedukasi para ibu untuk memodifikasi menu dari bahan pangan
pegunungan setempat agar anak mendapatkan nutrisi makro yang optimal dan
sesuai selera mereka.
Stani menggarisbawahi bahwa kunci
dari keberhasilan ini adalah pengetahuan ibu di rumah tangga. "Peran
keluarga sangat vital. Jika seorang ibu memiliki pemahaman gizi yang baik, ia
tidak hanya akan menyelamatkan anak yang stunting, tetapi juga menjaga
kesehatan seluruh anggota keluarga. Ia akan membatasi kebiasaan memberikan
makanan instan, gorengan, atau pangan tinggi pemanis yang memicu risiko
penyakit lain," tuturnya.
PERSAGI juga meluruskan persepsi
keliru di mana makanan bernutrisi sering kali hanya disajikan dalam momen-momen
tertentu saja. "Makanan bergizi itu bukan berarti hari ini makan enak,
lalu baru makan enak lagi satu bulan kemudian. Itu tidak seimbang namanya. Gizi
seimbang harus dipenuhi setiap hari pada porsi sarapan, makan siang, dan makan
malam," papar Stani.
Setiap porsi makanan idealnya
mengandung komponen nutrisi lengkap yang proporsional, mencakup karbohidrat,
lemak sehat, protein (terutama protein hewani), mineral, dan vitamin.
Terkait program kolosal
pemerintah daerah melalui TP-PKK yang mengampanyekan gerakan "Satu
Rumah Satu Pohon Kelor", Stani menilai hal tersebut sangat positif.
Daun kelor diakui kaya akan kandungan mikronutrien seperti serat, vitamin,
mineral, serta antioksidan tingkat tinggi. Kendati demikian, ia mengingatkan
agar kelor tidak dianggap sebagai satu-satunya menu mutlak penumpas stunting.
Upaya pencegahan stunting yang paripurna harus tetap mengacu pada pemenuhan
konsep gizi seimbang yang holistik dan berkelanjutan. (HK)


















