Pakai Dana Otsus 2026, DISNAKESWAN Mimika Perkuat Ekonomi Mimika barat Budidaya Ayam Kampung



KOKONAO – Pemerintah Kabupaten Mimika melalui Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan terus mendorong penguatan ekonomi masyarakat kampung melalui pengembangan sektor peternakan berbasis potensi lokal. Upaya tersebut diwujudkan melalui pelatihan teknis dan pemberian bantuan ternak ayam kampung kepada masyarakat di wilayah Kota Tua Kokonao, Distrik Mimika Barat.

Kegiatan yang dilaksanakan Selasa, 29 September 2026, tersebut dipimpin langsung Plt. Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Kabupaten Mimika, Emma Kornelia Korwa,S.Pt,M.Si. Program ini menjadi bagian dari upaya pemerintah memperkuat kapasitas kelembagaan peternak di tingkat distrik dan kampung sekaligus mendorong masyarakat mengembangkan usaha peternakan secara mandiri dan berkelanjutan.

Emma Kornelia Korwa,S.Pt,M.Si menjelaskan, pengembangan ayam kampung tidak hanya diarahkan untuk meningkatkan populasi ternak, tetapi juga menjadi instrumen pemberdayaan ekonomi keluarga. Masyarakat dibekali pengetahuan mengenai manajemen pemeliharaan dan kesehatan ternak agar bantuan yang diberikan dapat berkembang menjadi aset produktif dalam jangka panjang.

“Program ini kita rancang untuk membantu meningkatkan taraf ekonomi keluarga sekaligus mendukung pemenuhan kebutuhan protein, khususnya bagi anak-anak di wilayah Kokonao. Bantuan ini bukan hanya untuk dipelihara, tetapi diharapkan dapat dikembangkan menjadi usaha mandiri masyarakat,” jelas Emma.



Pelatihan tersebut diikuti 87 Kepala Keluarga (KK) yang berasal dari tujuh kampung dan satu kelurahan di wilayah Distrik Mimika Barat. Materi yang diberikan mencakup manajemen pemeliharaan ayam kampung serta manajemen kesehatan ternak, dengan menghadirkan tenaga teknis dan narasumber yang memiliki kompetensi di bidang peternakan, di antaranya Selvi Pataduna, S.Pt., M.Si.

Pelatihan ini dinilai penting karena keberhasilan budidaya ayam kampung tidak hanya ditentukan oleh jumlah ternak yang dimiliki, tetapi juga kemampuan peternak dalam menjaga kesehatan, menyediakan pakan, mengelola kandang, serta mengendalikan resiko penyakit.


Pemerintah juga mendorong peningkatan kualitas genetik ternak sehingga ayam yang dikembangkan masyarakat ke depan dapat menjadi sumber bibit yang baik. Dengan demikian, peningkatan populasi diharapkan berjalan seiring dengan peningkatan kualitas ternak.

Selain pelatihan, Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan juga menyalurkan paket bantuan ayam kampung kepada masyarakat sebagai stimulus pengembangan usaha peternakan. Khusus wilayah Kokonao, bantuan tersebut dialokasikan kepada 27 keluarga dengan total 870 ekor ayam.

Setiap keluarga memperoleh 10 ekor ayam, terdiri atas tiga ekor jantan dan tujuh ekor betina. Komposisi tersebut dirancang untuk mendukung proses perkembangbiakan sehingga penerima manfaat tidak hanya memperoleh ternak untuk dipelihara, tetapi memiliki peluang membangun populasi ternak secara bertahap.

Paket bantuan juga dilengkapi dua karung pakan awal, enam lembar seng untuk kandang, paku berbagai ukuran serta dukungan obat-obatan ternak. Penyediaan material kandang menjadi bagian penting karena kandang yang layak dapat membantu melindungi ternak dari predator, menjaga kebersihan, sekaligus memudahkan peternak melakukan pengawasan.

Program tersebut didukung melalui Dana Otonomi Khusus (Otsus) dan diarahkan agar manfaat pembangunan dapat dirasakan langsung oleh masyarakat asli Papua. Pemerintah berharap bantuan tersebut tidak berhenti sebagai bantuan konsumtif, tetapi berkembang menjadi modal usaha produktif yang dapat dikelola keluarga dan kelompok masyarakat di kampung.

Menurut Emma Kornelia Korwa,S.Pt,M.Si, Kokonao memiliki potensi lokal yang dapat mendukung pengembangan ayam kampung. Ketersediaan sumber pakan alami seperti kelapa dan udang menjadi salah satu peluang yang dapat dimanfaatkan masyarakat dalam mendukung pemeliharaan ternak.

Namun, pelaksanaan distribusi bantuan di wilayah pesisir juga menghadapi tantangan logistik, terutama kondisi pasang surut air yang memengaruhi proses pengangkutan dan distribusi melalui dermaga. Pemerintah memastikan bantuan yang belum tersalurkan akan tetap didistribusikan kepada masyarakat setelah kondisi memungkinkan.

Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan juga menekankan pentingnya pendampingan setelah bantuan diberikan. Penerima manfaat diharapkan menerapkan pengetahuan yang diperoleh selama pelatihan, menjaga kesehatan ternak, menyediakan pakan secara teratur, serta tidak menjual bantuan awal secara cepat sehingga tujuan program untuk membangun aset ekonomi keluarga dapat tercapai.

Melalui pola pemberian bantuan yang disertai pelatihan dan pendampingan, pemerintah ingin membangun pola peternakan masyarakat yang lebih mandiri. Ayam kampung diharapkan dapat berkembang menjadi sumber pendapatan keluarga sekaligus mendukung ketersediaan pangan dan protein hewani di tingkat kampung.

“Yang paling penting adalah masyarakat mampu menjaga, memelihara dan mengembangkan bantuan ini. Jangan melihatnya hanya sebagai bantuan yang diberikan pemerintah, tetapi sebagai aset yang harus dijaga supaya ke depan bisa berkembang dan memberikan manfaat bagi keluarga,” pesan Emma.


Program pengembangan ayam kampung di Kokonao dengan demikian tidak hanya berbicara tentang peningkatan jumlah ternak. Lebih jauh, program ini diarahkan untuk membangun keterampilan, menciptakan aktivitas ekonomi baru, meningkatkan produksi pangan, serta membuka peluang pendapatan masyarakat melalui pemanfaatan potensi lokal secara berkelanjutan.

Pemerintah Kabupaten Mimika berharap keberhasilan program tersebut dapat menjadi contoh pengembangan peternakan berbasis masyarakat di wilayah distrik dan kampung lainnya, dengan mengedepankan prinsip pelatihan, pemberian aset produktif, pendampingan, pengawasan, dan keberlanjutan usaha.

Kadistrik Mimika Barat Kristian Warinussy mengapresiasi gerakan yang dilakukan Disnakeswan Mimika melalui Dana Otsus yang di kelola tahun 2026 ini, hal ini menjadi program baik untuk dilakukan bagi warganya di Distrik Mimika Barat.

Postingan Terbaru